25 May 2013
Category:
Motivasi
Comments: 0

Berani Mencoba Peruntungan

peluang-usahaKetika perusahaan pembangunan jalan layang tempatnya bekerja bangkrut akibat krismon tahun 1997, Dr.Ir.Wahyu Saidi, M.Sc (alumni ITB) pun bertekad banting stir untuk jadi entrepreneur. Awalnya dia mencoba usaha di bidang Agribisnis dengan menanam cabe dan buncis, tapi berakhir gagal. Tak putus asa, is mencoba lagi membuka lepau Ikan Patin. Tapi perkembangan bisnisnya itu datar-datar saja, “Memang sih, keuntungan berjualan makanan bisa 100% dari modal,” katanya,

Dengan menimba pengalaman jualan makanan, Wahyu Saidi pun pada akhirnya memilih bakmi karena makanan ini disukai anak-anak hingga orang tua dan di makannya pun bisa pagi, siang, sore atau malam hari. Maka mulailah is membuat adonan bakmi yang lezat, hasil arahan para pakar Kuliner, analis rasa dan pensiunen Bakmi GM. Maka mulailah ia membuka gerai bakmi. Semula di Menara Kadin dengan nama ‘Bakmi Langgara’, disusul di kawasan Jakarta Timur dan Jakarta Selatan dengan nama ‘Bakmi Tebet’, kemudian bisnis di kawasan Parung, Bogor. Semuanya berjumlah puluhan outlet, bahkan sampai ke Malaysia dan Arab Saudi. Usahanya sangat sukses. Ia mengaku, sehari mendapat keuntungan antara Rp 2 juta – Rp 3 juta. Satu hal yang jadi pegangan Wahyu untuk mempertahankan bisnis bakmi­ nya adalah, agar mutunya tetap terjaga. Karena itu, ia rutin menggelar pelatihan buat para kokinya.

Saikem (47) pun, seorang wanita penjual bakmi yang -nulai merangkak sukses. Bermula dia nekad dagang mie ayam dengan mendorong gerobaknya sendirian, mengelilingi daerah pemukiman Cakung, Jakarta Timur. Ia bekerja tanpa dibantu suami, namun tekadnya kuat hingga dia mendapatkan banyak pelanggan, bahkan ketika rumah mereka digusur dan harus pindah ke Tangerang, Di sini keadaan lebih menantang, tapi Saikem tetap gigih mencari pelanggan baru.

Setahun lamanya dia baru diterima oleh masyarakat setempat dan akhirnya dia mampu membangun pabrik mie dengan produksi 30 bal tepung terigu/hari. Sebagian mie Saikem di lempar ke pasar tradisional di Tangerang dengan merek ‘Gajah Mungkur’ atau GM. Memiliki 11 gerobak dorong yang dijalankan oleh anak buahnya. Disamping itu, dia juga membuat kue bawang yang seharinya menghabiskan 1 sak terigu. Kini dia berhasil mengembangkan usahanya sendiri tanpa mendorong gerobak.

Siapapun yang melihat akan berpikir, betapa Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, dan Nyonya Saikem punya peruntungan yang baik sekarang. Nampaknya, dengan mudah saja usaha mereka membesar dan jadi entrepreneur sukses dan mulai kecukupan / kaya berkat bakminya. Padahal semua itu mereka jalankan dengan berbagai kesulitan, tekanan batin -mungkin juga hinaan- tantangan dan kerja keras. Kita tahu, banyak sekali makanan `bakmi’ yang dijual di restoran besar sampai pinggir­ – pinggir jalan. Namun ternyata, ide membuat bakmi ‘Langgara’ dan mie ayam dengan gerobak itu berhasil mengumpulkan pelanggan.

Menurut Wahyu, ide membuat bakmi itu disebabkan semula dia tergila-gila oleh kelezatan bakmi GM, sehingga dia pun nyontek ide dari keberhasilan bakmi GM. Tapi dia berusaha supaya tidak nyontek atau latah 100 %, karena tiap-trap bisa harus punya ciri khasnya sendiri-sendiri. Sedang Ny. Saikem mengaku, dirinya berjualan mie ayam dengan gcrobak, karet tuntutan keadaan. Dia ngaku memang ikut-ikutan bisnis orang lain, tapi mengenai rasa masakan, masing-nursing tentun, berbeda. Melihat contekan jual bakmi mereka mampu sukes(banyak kemungkinan Anda juga bisa nyontek bisnis lain yang sudah punya nama top di pasaran, lalu Anda tinggal nyontek  kiat sukses Wahyu Saidi dan Ny. Saikem.

Tapi jangan lupakan bahwa banyak entrepreneur yang saat ini sukses, awalnya berangkat dari bisnis kecil-kecilan atau hanya dengan modal dengkul. Hanya saja berkat kegigihan berusaha dan banyak belajar, kreatif dan inovatif, mereka maju selangkah demi selangkah sampai akhirnva punya perusahaan besar. Contohnya adalah:

Bob Sadino (Bos Kern Chick), pada mulanya hanya seorang kuli bangunan dan supir taksi -hanya karena ingin jadi entrepreneur- lalu menjadi pedagang telur yang dia tawarkan dari satu rumah ke rumah gedongan di kawasan Kemang. Berkat kegigihan dan keuletannya jualan telur ayam dan memberi kepuasan kepada pelanggan, maka dia memiliki sendiri supermarket ‘Kem Chick’ khusus buat orang-orang asing yang tinggal di Jakarta. HM Ambaldy Djuardi (Pemilik Kursus Menjahit,’Juliana Jaya’), memulai usaha kecil-kecilannya dengan jualan roti pikulan. Usahanya maju karena mendirikan kursus montir dan menjahit ‘Juliana’ yang akhirnya berganti nama jadi ‘Juliana Jaya’. Kini sudah memiliki 46 cabang yang tersebar di berbagai propinsi di Indonesia, lalu mendirikan kursus ‘Baby Sitter’, Kursus setir mobil, memiliki warung sate dan usaha Es Doger. M.Suyanto bersama Purdi E Chandra (pemilik Lembaga Bimbingan Belajar’Primagama’), semula hanya memiliki’BimbinganTes Primagrama’yang hanya dikunjungi dua orang siswa. Bisnisnya jatuh bangun sampai akhirnya peminatnya membludak. Saat ini mereka membuka cabang di ratusan kota seluruh Indonesia dan menjadi lembaga bimbingan belajar terbesar di Indonesia.

Orang lain akan menilai mereka saat ini sebagai manusia yang beruntung dan punya nasib balk. Itu sekarang. Karena, saat ini mereka mampu bersenang-senang dan mampu memiliki apapun yang mereka inginkan. Seperti harta benda, perusahaan, perjalanan ke luar negeri dan lainnya. Sebelumnya, mereka adalah orang-orang yang seperti Anda juga. Belajar bisnis dari nol sama sekali. Mereka lalu berusaha dan berjuang keras, banting tulang, melakukan pengorbanan lahir dan batin. Dihina dan ditipu banyak orang, namun mereka sangat ulet dan tabah. Memang, nasib balk tidak bisa diraih begitu saja. Untuk sukses, siapapun harus punya biaya yang mahal. Bahkan, jaminannya adalah masa depan!

 

Leave a Reply